Menelusuri Universe Harvest Moon (Bagian 1.0)
Bahagia rasanya bisa menulis tentang gim Harvest Moon (seri Back To Nature) ini.
Sebuah gim fenomenal era Playstation 1, menemani masa kecil yang penuh kenangan.
Tulisan ini tidak untuk menyinggung atau menghina gim Harvest Moon, yang dikembangkan oleh Victor Interactive Software.
Rasa-rasanya, gim yang diterbitkan Natsume, dan dirilis pada 16 Desember 1999 di Jepang, masuk dalam daftar gim PS1 terbaik sepanjang masa.
Tulisan ini bentuk apresiasi saya terhadap gim yang tidak akan lengkang oleh waktu ini.
Sudut pandang lain, apa-apa saja yang terjadi di Mineral Town (latar tempat dalam gim Harvest Moon: Back To Nature).
Artikel ini akan dibuat tulisan bersambung.
Sekali lagi bukan untuk menyinggung, tulisan ini hanya hiburan semata. Isu sosial, isu lingkungan, dan lain-lainnya hanya karangan penulis.
Kalau ada kesamaan kejadian atau permasalahan suatu tempat, percayalah itu tidak disengaja.
Selamat menikmati tulisan ini
////
Ujarku.co
Gim Harvest Moon: Back To Nature, diawali kisah masa kecil bocah yang berlibur ke perkebunan sang kakek di Mineral Town.
Jelas sekali bocah itu berasal dari kota yang berbeda.
Selama menjalani masa liburan musim panas, Si Bocah menghabiskan waktu bermain di peternakan dan perkebunan, bermain di hutan bersama anak gadis sebayanya.
Waktu melompat 10 tahun kemudian. Bocah beranjak dewasa.
Setahun setelah sang kakek wafat, tokoh utama dalam gim, kembali ke Mineral Town, untuk mewarisi perkebunan dan peternakan sepeninggal kakek.
Mayor (wali kota) dan penduduk lainnya memutuskan bahwa dia bisa tinggal sebagai pemilik sah asalkan dia bisa mengembalikan kebunnya seperti semula dalam waktu tiga tahun.
Bila dia bisa mengembalikannya atau berteman dengan penduduk, dia akan diperbolehkan tinggal selamanya.
Karakter utama (tindak punya nama tetap), selanjutnya akan kita panggil dia dengan nama Bujang.
Bujang mulai dengan kebun warisan yang tak terurus lagi yang tertutup gulma dan sedikit uang.
Selama bermain, Bujang harus membangun sebuah kebun subur dan berteman dengan penduduk Mineral Town.
Bujang dituntut bisa menyeimbangkan antara mengurus kebun dan bersosialisasi dengan karakter-karakter.
Jika pendekatan lancar, tokoh utama gim ini juga bisa kawin.
Sungguh gim pelarian kaum jomblo.

Lima kembang desa, bisa usahakan jadi jodoh.
Popori, gadis manja anak pemilik peternakan ayam.
Karen, perempuan tempramen dan pemarah, anak pemilik super market di Mineral Town.
Elli, suster cantik, atau Mary, si lugu penjaga perpustakaan.
Terakhir ada Anna, si tomboy yang pintar memasak.
Dari sudut pandang penulis yang berstatus jomblo veteran. Berbagai pertimbangan akan dilakukan untuk memilih jodoh.
Mari kita bedah satu per satu, dari yang pilihan terakhir menjadi jodoh, hingga yang paling ideal dijadikan bini.

Pilihan paling uncit ada Karen.
Percayalah jangan pilih gadis blonde satu ini.
Event pertama dengan sang gadis, Bujang memergoki Karen dan Rick (kakak Popori) mojok di Gereja.
Mereka memang memiliki hubungan dekat.
Yang tidak dipercaya, keduanya memadu kasih ke hutan belakang Gereja. Bisa kah kalian percanya mereka hanya jalan-jalan, atau sedang…. Ah, sudah lah.
Selain itu Karen tidak bisa memasak, acap kali percaya diri mengolah makanan, tapi ya, berakhir gosong.
Karen juga punya sifat tempramental, sebagai pendatang baru di Mineral Town, percayalah jangan pilih bini yang seperti itu.
Kedua, Anna.
Meski tomboy, Anna penuh perhatian, cantik, dan pintar memasak.
Beruntung sekali rasanya jadi lakinya Anna.
Tapi sayang, seribu sayang.
Mineral Town, mungkin penganut seks bebas.
Bagaimana tidak, Anna memiliki hibungan dengan Cliff, si pengembara.
Sebagai pelancong, Cliff tidak punya hunian di Mineral Town, alhasil Anna kerap mengajak Cliff menginap di Inn (penginapan sekaligus restoran milik ayah Anna).
Bayangkan saja, Anna dan Cliff kerap kedapatan berduaan di dalam kamar. Gak mungkin main UNO dong.
Andai kata di Mineral Town ada Satpol PP, berani tahuran penulis, mereka pasti kena razia.
Ketiga, Popuri.
Popori, gadis manja, berhubungan dengan Kai.
Mungkin Popuri jatuh cinta mati dengan Kai, si penjual jagung.
Hubungan mereka terhalang restu Kakak Popuri (Rick).
Rick kerap memarahi Popuri lantaran berhubungan dengan Kai. Disinilah permasalahannya.
Popuri tidak bisa menghindari pertengkaran hebat dengan Rick. Mereka beradu argumen. Saling lempar kata-kata dengan nada tinggi.
Kai hanya santai menanggapi pertengkaran keduanya.
Demi cinta melawan keluarga.
Keempat, Elli.
Sang perawat ini selalu sigap menanyai dan menjaga kesehatan warga Mineral Town.
Mengejar cinta Elli, saingan kita cukup berat, si dokter klinik.
Mereka dipastikan selalu berduaan, ya karena satu tempat pekernaan.
Punya saingan dokter tampan dan mapan, kita mungkin butuh usaha keras untuk mendapatkan hati sang gadis.
Elli cukup oke dijadikan istri. Dia perawat yang baik, tanpa pamrih, dan peduli keluarga.
Terakhir, Merry.
Gadis jelita lugu penjaga perpustakaan.
Marry datar-datar saja, dia cukup kuat jadi pilihan berumah tangga. Pesaing kita karyawan tambang, selalu sibuk.
Aktivitas Marry, selain menjaga perpustakaan milik ayahnya, juga menemani sang ibu berbelanja kebutuhan rumah.
Pokoknya, Si Merry ini idaman dah dijadikan bini.
Pilihan penulis ada di dua sosok, kalau mencari bini di Mineral Town.
Merry dan Elli.
Merry, akan memastikan anak-anak keturunan kita punya pengetahuan yang baik. Punya koleksi ribuan buku, dipastikan pengetahuannya sangat luas.
Elli, peduli keluarga dan dipastikan bisa merwat anak-anak kita dengan baik. Elli, punya sifat keibuan. Berbahagialah dia yang menikahinya.
Tulisan ini analisis perjodohan dari seorang Jomblo Veteran.
Terlepas dari itu, pesan terbaik dari Gim Harvest Moon, mengajari kita disiplin dan bersosialisasi.
Sesuatu yang kaum jomblo sulit lakukan.
Tulisan ini cuma untuk hiburan, jangan tersinggung apa lagi baper. Kembalilah ke kehidupan nyata, dan kita jadi tokoh utama. Apakah segampang bermain gim.
Selamat menjalani, tanpa ada tombol save dan quit. (*)
Penulis; SL/Ujarku





